Dimana Seharusnya Posisi Mahasiswa Saat Mayday?

maydayMayday merupakan hari yang sangat sakral bagi rakyat Indonesia khususnya kaum pekereja, karena menandakan bahwa buruh memiliki hak politik untuk mengekspresikan keresahannya dalam sistem ketenagakerjaan di negara ini. Ditengah maraknya PHK hingga serbuan berbagai kebijakan yang semakin menelantarkan nasib kaum pekerja, mayday merupakan ruang konsolidasi yang tepat bagi kaum pekerja untuk menuntut perbaikan nasibnya.

Secara historis, peringatan mayday lahir dari perjuangan pekerja yang menuntut diberlakukannya 8 jam kerja. Karena sejak awal ditemukannya mesin-mesin yang menjadi permulaan berkembangnya revolusi industri, buruh bekerja lebih dari 8 jam hingga 20 jam sehari yang membuatnya terasingkan dari kehidupan sosialnya.

Secara kritis, kerja lebih dari 8 jam sehari yang dirasakan oleh buruhpun bukan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, tetapi untuk kepentingan akumulasi kekayaan si pemilik modal untuk terus mengembangkan dominasi kekayaannya dan di satu sisi semakin mempertajam jurang pemisah antara si kaya (pemilik modal) dengan si miskin (kaum pekerja). Buruh justru semakin tersita waktunya dari keluarga, teman-teman, lingkungan sosial hingga kegiatan rohani.

Di Indonesia sendiri, Mayday merupakan momok yang sangat menakutkan bagi penguasa karena dapat membangkitkan kesadaran kritis rakyat Indonesia yang sangat mudah dipecah belah oleh berbagai isu SARA yang membuatnya terus ditindas. Tidak heran, penguasa selalu menghilangkan makna dari mayday dan mengalihkan dengan berbagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan dan membuai kaum pekerja agar selalu taat dan tunduk terhadap segala sistem dan aturan penindasan yang dibuat. Bahkan di zaman orde Baru perayaan 1 Mei dilarang untuk dihilangkan dari sejarah.

 

1 Mei Merupakan Momentum Perjuangan Kaum Pekerja

Tepat di tanggal 1 mei 1886, sekitar 80.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demontrasi menuntut 8 jam kerja yang dalam beberapa hari demontrasi ini direspon dengan pemogokan massal yang menyebabkan 70.000 pabrik terpaksa ditutup. Demontrasi ini terus berlanjut sampai tanggal 4 mei 1886 yang membuat pemerintah Amerika Serikat terusik lalu dengan menggunakan kekuatan militernya menembaki, menangkap dan menghukum mati ratusan buruh yang berjuang menuntut haknya.

Sejarah May Day sebagai hari perlawanan kaum pekerja

Sejarah May Day sebagai hari perlawanan kaum pekerja, (berbagai sumber)

Peristiwa tersebut membawa dampak yang luar biasa bagi buruh sedunia sehingga  pada tanggal 4 juli 1889 (refleksi 100 tahun revolusi prancis) semua buruh diberbagai belahan dunia berkumpul dan memutuskan sebuah resolusi yang berisi :

Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi Internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum pengurangan waktu kerja menjadi delapan jam kerja, serta melakukan keputusan-keputusan yang lain dari Kongres Paris. Sejak Demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei 1890 oleh Federasi Tenaga Kerja Amerika  di konvensi St.Louis, Desember, 1888, hari ini diterima untuk demontrasi International. Para Pekerja dari berbagai negara harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negara.”

Kemudian selanjutnya setiap 1 Mei, merupakan hari momentum bagi seluruh kaum pekerja untuk merefleksikan dirinya bahwa mereka tidak sendirian. Ratusan juta kaum pekerja diseluruh dunia telah disatukan menjadi sebuah Klas atas persamaan nasib yang menghapuskan perbedaan ras, suku, bangsa, etnis, agama, warna kulit. Kaum pekerja sedunia akan melakukan perlawanan merampas kembali haknya yang dicuri oleh penguasa dan membangun kekuatan persatuan.

Kaum pekerja harus menyadari eksistensinya sebagai penopang ekonomi bangsa yang harus menjadi prioritas dalam mendapatkan hak hidupnya. Ditengah pendidikan yang mahal, kesehatan yang sulit diakses, mahalnya kebutuhan pokok, kaum pekerja lah yang mendapatkan efek yang paling parah. Belum lagi dengansistem kerja kontrak/Outsorching, PHK massal, dan diberlakukannya PP Pengupahan no 78 tahun 2015 yang merupakan skema politik upah murah telah semakin menempatkan kaum pekerja kedalam jurang kesengsaraan yang mendalam.

 

Mahasiswa di tengah perjuangan Rakyat

Menghadapi situasi yang semakin menindas hari ini, mahasiswa dihadapkan pada satu tanggung jawab sosial yang sangat pokok. Karena sebagai intelektual muda yang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang cukup maju sudah menjadi keharusan bagi mahasiswa untuk berani keluar dari kampus-kampus dan menyebarluaskan gagasan persatuan bagi gerakan rakyat.

KPR NTB (SMI Mataram Documen)

KPR NTB (SMI Mataram Documen)

Mahasiswa memiliki relasi strategis dengan perjuangan kaum pekerja karena persamaan nasib akibat eksploitasi sistem kapitalisme dalam dunia pendidikan (kapitalisasi pendidikan) yang hari ini telah mengubah wajah Pendidikan menjadi komoditas perdagangan yang siap menuntun mahasiswa menjadi “calon pekerja profesional” untuk diserap oleh pasar tenaga kerja. Hal ini tentu sangat mengenaskan dengan biaya pendidikan yang mahal, mahasiswa kedepannya justru dihadapkan juga oleh nasib kaum pekerja seperti Upah Murah, Sistem Kerja Kontrak/Outsorching dll.

Pemagangan, PPL (Praktek Pengajaran Langsung), PKL (Pengenalan Kerja Lapangan) dan sejenisnya yang dipuja sebagai suatu program cerdas untuk mengkualitaskan skill pelajar/mahasiswa, nyatanya merupakan suatu prakondisi bagi pelajar/mahasiswa untuk mengenal dunia kerja sekaligus sebagai tenaga kerja murah dalam tiap periodenya bagi Industri maupun Instansi yang ada.

Belum lagi wacana Student Loan/Kredit Pendidikan yang diwacanakan oleh Jokowi yang semakin mempertegas posisi Negara sebagai FASILITATOR bagi kehadiran investasi dunia pendidikan. Negara sudah tidak bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan terutama pembiayaan pendidikan, mahasiswa terutama orang tua mahasiswa (yang menanggung biaya pendidikan) yang sebagian besar adalah Kaum Pekerja lah yang kemudian menjadi kelompok paling dihisap oleh sistem pendidikan hari ini.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi Pelajar/Mahasiswa untuk menggabungkan diri pada 1 Mei kedalam barisan perlawanan kaKum Pekerja sedunia menggelorakan perlawanan terhadap sistem penindasan Kapitalisme dengan menuntut berbagai Hak Normatif buruh serta mendorong terwujudnya Pendidikan Gratis, Ilmiah, Demokratis dan Bervisi Kerakyatan.

 

 

Oleh : Agam Mbozo






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *