Reportase Aksi Nasional Menyambut Mayday 2018

JakartaMayday merupakan hari besar bagi rakyat dunia terutama klas buruh yang menandakan semangat perlawanan dan pembebasan dari belenggu penghisapan sistem kapitalisme. Sebagai alat perjuangan mahasiswa yang melebur bersama gerakan rakyat, Serikat Mahasiswa Indonesia melakukan aksi Mayday 2018 dengan menyatukan diri bersama persatuan gerakan rakyat di berbagai kota di Indonesia

Ketua Umum SMI, Nuy Lestari menyatakan bahwa aksi Mayday bukan hanya diperingati sebagai hari buruh saja, tapi merupakan momentum perlawanan gerakan rakyat yang akan mendorong maju terbentuknya kesadaran kelas rakyat Indonesia. Menurutnya, selama ini Rakyat Indonesia selalu menjadi objek penindasan negara lewat berbagai regulasi yang bermuara pada kepentingan modal. Terutama saat momentum pemilihan umum dimana suara-suara rakyat diperebutkan seperti barang dagangan namun kemudian dibuang setelah pemilu usai.

Dalam aksi Mayday 2018 Nuy menegaskan bahwa mahasiswa harus melebur kedalam gerakan rakyat dan mempertajam perspektif persatuan sebagai alat politik alternatif rakyat terutama mengingatkan kepada rakyat Indonesia agar berani berjuang dan tidak menitipkan nasibnya kepada siapapun apalagi elit politik borjuasi yang tidak pernah berpihak kepada rakyat. ”posisi SMI sebagai Alat Perjuangan Mahasiswa akan selalu terlibat dalam gerakan rakyat terutama gerakan buruh dengan mengkampanyekan situasi objektif hari ini kepada seluruh rakyat agar tidak terilusi oleh hegemoni Kapitalisme” terangnya.

Untuk diketahui, aksi mayday kali ini diperingati sekitar 180 ribu buruh di seluruh Indonesia. Di Jakarta, SMI bersama dengan Komite Perjuangan Rakyat (KPR) tergabung dalam Gerakan Buruh Untuk Rakyat (GEBRAK) yang mengusung tema “Bangun Kekuatan Politik Alternatif, Wujudkan Indonesia Berkeadilan!”

GEBRAK bersama unsur buruh lainnya melakukan aksi sejak pagi di sekitar bundaran HI hingga menuju depan Istana Negara untuk mendesak pemerintah bertanggung jawab terhadap permasalahan rakyat terutama masalah buruh. Seperti aksi tahun lalu, tahun ini terlihat represifitas dari aparat kepolisian yang berjaga dan memasang barikade serta kawat berduri yang menghalangi massa aksi untuk menuju Istana Negara.Jak

Dalam orasinya, sejumlah perwakilan buruh menegaskan bahwa buruh Indonesia menuntut pemerintah mencabut PP nomor 78 tahun 2015, menolak keras sistem kerja kontrak/Outsorching serta mengajak seluruh rakyat Indonesia agar segera menyatukan diri dalam persatuan gerakan rakyat dan tidak menitipkan nasib ke tangan elit politik borjuasi. Massa aksi juga menyindir klaim beberapa elit politik yang menyeret buruh dalam politik praksis pemilu 2019, karena buruh saat ini sudah semakin sadar terhadap posisi kelasnya dan tidak mudah dibodohi untuk kesekian kalinya oleh elit politik borjuasi.

Selain di Jakarta, SMI juga tergabung dengan gerakan buruh di berbagai kota lainnya dengan menuntut hak noormatif buruh serta membongkar situasi nasional di bawah cengkraman sistem kapitalisme.

Jogja

Di Jogja, SMI Cabang Jogja bersama KPRY tergabung dalam Aliansi Rakyat Untuk Satu Mei mengusung tema “Bangun Persatuan Rakyat Lawan Sistem Neoliberalisme Wujudkan Keadilan, Kesetaraan, Kesejahteraan Bagi Rakyat”. Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dari Abu Bakar Ali menuju titik nol KM yang dipimpin oleh kawan Restu.

JOGJAMassa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi di jogja seperti Sekber, LFSY, Cakrawala, SERBUK, KPRY SOS, KEPAL, LMND, IKS dan PRD dengan total sekitar 270an massa aksi melakukan longmarch sambil menuntut beberapa tuntutan seperti Tolak Upah Murah, Hapus PP 78 tahun 2015, Tolak Sistem Kerja Outsorching dan berbagai tuntutan lainnya.

Pekalongan

Aliansi Pekalongan Menggugat (AMP) yang terdiri dari KPR, Sedulur Pekalongan, GEMALAWA/Pecinta Alam, BEM Pertanian UNIKAL, BEM STMIK, BEM IAIN Pekalongan melakukan aksi massa dalam menyambut Mayday 2018

Puluhan massa aksi APM yang dipimpin oleh kawan Bombom (KPR) melakukan aksi dengan tema “ Wujudkan Upah Layak Nasional dan Wujudkan Pendidikan Gratis, Ilmiah, Demokratis dan Bervisi Kerakyatan. Massa aksi memulai aksi sekitar pukul 10.00 WIB dari Lapangan Mataram menuju Gedung DPRD Kota Pekalongan sambil menyampaikan sejumlah orasi ilmiah dan diakhiri pukul 15.00 WIB dengan pembacaan sikap politik.

Malang

Menyambut Mayday Berlawan, SMI Cabang Malang bersama dengan Aliansi Perjuangan Rakyat Malang (SMI, SGBI, SGMI, Driver Ojol, BEM FE Unibraw, Kolektif PPM, HMI Komisariat MIPA, HMI Komisariat FIA, ASF, IKAMI SULSES, HIMA POLITIK UB, HMI Ekonomi UB).

Aksi longmarch APRM dimulai dari Gajayana sekitar pukul 08.00 WIB menuju Balai Kota Malang sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan sikap APRM terhadap situasi kota Malang. Massa aksi tiba di Balai Kota Malang sekitar pukul 10.00 WIB dan melakukan orasi politik secara bergantian sambil menunggu mediasi dari pihak Pemerintah Kota.

MalangSekitar pukul 11.30 WIB beberapa perwakilan dari massa aksi melakukan audiensi dengan pihak Pemerintah Kota Malang untuk meminta pertanggungjawaban PEMKOT terhadap nasib buruh Malang yang mendapatkan Upah Murah tidak sesuai dengan KHL Kota Malang. Audiensi berujung buntu karena massa aksi hanya mendapatkan janji dan tidak ada kepastian hukum ataupun agenda tindak lanjut dari pemerintah Kota Malang. Setelah itu Korlap menyampaikan sikap politiknya untuk menutup aksi dan berjanji akan kembali menuntut hak buruh sampai terpenuhi.

Bima

Menyambut Mayday, KPR Bima (SMI, KPOP, Pemuda Bima) melakukan aksi massa dengan mengangkat tema “Perkuat Konsolidasi Gerakan Rakyat Bangun Alat Politik Alternatif”. Sekitar 63 orang massa aksi memulai aksi sekitar pukul 10.20 Wita dari depan kampus STKIP BIMA lalu longmarch menuju cabang empat Gunung Dua untuk melakukan mimbar bebas menyampaikan sejumlah orasi politik.

Massa aksi sempat memanas akibat adanya provokasi oleh oknum aparat yang bermaksud membubarkan secara paksa aksi massa karena dianggap tidak memenuhi unsur administrasi untuk melakukan aksi, namun massa aksi bersikeras untuk tetap melakukan aksi karena menganggap merupakan hak warga negara yang sudah dijamin konstitusi sehingga aksi pun terus dilanjutkan.

Dalam orasinya, massa aksi menyoroti tindakan represif aparat keamanan yang sering terlibat dalam persoalan rakyat serta menuntut negara untuk mencabut PP nomor 78 tahun 2015 yang dianggap sebagai masalah utama kesejahteraan buruh dan hanya menguntungkan pengusaha.

BimaMassa aksi melakukan orasi politik secara bergantian hingga pukul 12.05 membubarkan diri setelah membacakan pernyataan sikap.

Makassar

Ribuan massa buruh yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Untuk Buruh (GERAK BURUH) melakukan aksi massa di bawah jalan fly over kota Makassar sehingga arus jalan ditutup. Massa aksi yang terdiri dari SMI Cabang Makassar, FMK Makassar, SRIKANDI, GSBN, FPBN, FBTPI-KPBI, Pembebasan, Forwa Makassar, Persatuan Mogok Kerja PT. Freeport, SP AM, Sedar, Komunal, PMII Rayon UMI, FMD SGMK, HMJ PPKN FIS UNM, Fosis, PPI, LBH Makassar, PPMI, Komunitas Sehati Makassar dan HPMM.

Ada beberapa tuntutan yang disuarakan oleh massa aksi terkait persoalan nomatif perburuhan dan persoalan rakyat lainnya seperti menghentikan pemberengusan serikat buruh, hentikan keterlibatan militer dalam persoalan rakyat, tolak PHK sepihak, cabut PP nomor 78 tahun 2015, cabut UU PT nomor 12 tahun 2012, berikan perlindungan buruh migran Indonesia dan mendorong rancangan Perda tentang tindak pidana bagi perusahaan yang tidak menjalanakan upah layak.

Aksi boikot terus berlanjut hingga pukul 11.00 sebagian massa bergerak ke kantor Gubernur Sulawesi Selatan untuk melanjutkan penyampaian orasi ilmiahnya.

Medan

MedanSMI Cabang Medan menggelorakan Mayday dengan melakukan aksi massa di kota medan dan tergabung dalam Geram – SU (Gerakan Rakyat Melawan – Sumatra Utara) yang terdiri dari (SPI, FPBI, SPMS, SPRINT, SBSI 92, PSTP Belawan, PPMI, SMI Cabang Medan, HMI Fisip USU, HMI UMSU, HMI Fasas UISU, GMNI GK, LBH Medan, Kontras Sumut, FITRA Sumut, BAKUMSU, PBHI).

Sekitar 850 Massa aksi yang dipimpin Irawanto (FPBI) berkumpul di Istana Maimun pukul 11.00 Wib dan melakukan Longmarch menuju Tugu Pos sambil menyampaikan sejumlah orasi dengan tema “ Bangun Persatuan Gerakan Rakyat Lawan Rezim Upah Murah Jokowi-JK, Tolak Tenaga Kerja Asing non skill & Lawan Kapitalisasi Pendidikan”.

Massa aksi juga menyoroti maraknya represifitas terhadap gerakan rakyat yang semakin menghalangi hak rakyat untuk menyampaikan pendapat. Terutama dengan adanya UU Ormass nomor 2 tahun 2017 yang telah menempatkan rakyat menjadi semakin terkekang dalam berekspresi dan berorganisasi.

Lampung

SMI cabang Bandar Lampung yang tergabung dalam Pusat Perjuangan Rakyat Lampung (FSBKU-KSN, FSP2KI-KPBI, FSBMM, FPBI, SMI, LMND, FMN, SERUNI, SP Sebay Lampung, SPRI, SBMI, LBH Bandar Lampung, KPOP, Persatuan Masyarakat Pasar Griya).

Sekitar 1200an massa aksi melakukan longmarch dari Tugu Juang menuju Tugu Adipura sekitar pukul 09.00 WIB sambil menyampaikan sejumlah orasi secara bergantian. Dalam orasinya massa aksi menuntut beberapa tuntutan seperti Cabut PP 78 tahun 2015, tolak Revisi UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang sarat kepentingan pengusaha, Hapus Sistem Kerja Kontrak/Outsorching, Hentikan segala bentuk reprisifitas dalam gerakan rakyat dan berbagai isu perburuhan lainnya. Aksi PPRL juga menyoroti kasus hukuman gantung buruh migran asal Lampung dan mendorong negara untuk bertanggung jawab agar membatalkan tuntutan tersebut serta memberikan jaminan perlindungan bagi buruh migran. Selain itu, massa aksi juga menolak upaya penggusruan secara sewenang-wenang terhadap warga kampung Pasar Griya.

Mataram

KPR Mataram yang terdiri dari SMI, FPBI, dan KPOP serta beberapa organisasi mahasiswa seperti HMP2K, WMPM, HIMATETA, FMS, IMPBIDOM, HMD dan Forwal melakukan aksi massa memperingati Mayday 2018.

Sekitar 350 orang massa aksi yang dipimpin oleh Putu (FPBI) dan Sukmin (SMI) memulai aksi sekitar pukul 09.47 Wita dari taman budaya menuju Disnaker Provinsi NTB sambil menyampaikan sejumlah orasi ilmiah secara bergiliran.

mATARAMDalam orasinya massa aksi menyampaikan bahwa buruh merupakan tonggak perekonomian bangsa yang harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah hari buruh merupakan hari perlawanan seluruh rakyat di dunia tidak terkecuali mahasiswa yang juga merupakan calon buruh upah murah dalam sistem penindasan Kapitalisme. PP nomor 78 tahun 2015 merupakan produk kebijakan yang membuat buruh semakin tertindas lewat mekanisme penghitungan upah yang tidak manusiawi karena tidak sesuai dengan kebutuhan hidup buruh sehari-hari.

Massa aksi sampai di Disnaker sekitar pukul 11.00 Wita dan bermaksud melakukan mediasi dengan pihak Disnaker mengenai sejumlah permasalahan perburuhan di NTB, namun pihak Disnaker tidak ada ditempat sehingga massa aksi hanya melakukan orasi politik sambil kembali menuju titik kumpul di Taman Budaya setelah sebelumya membacakan sikap politik di depan kampus Universitas Mataram.

Ternate

Serikat Mahasiswa Indonesia Cabang Ternate yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Perjuangan Indonesia (SGSPI) yang terdiri dari (SMI, GAMHAS, SPR, PMII, EK-LMND, GEMA BURUH MALUKU UTARA, SPN), dan beberapa elemen mahasiswa lainnya menggelar aksi massa di lokasi Landmark Kota Ternate.

Dalam lokasi yang sama dengan Aksi SGSPI ada juga kegiatan Bhakti Sosial menyambut Mayday “Fun Mayday” yang diadakan oleh Pihak Polda Malut, Polres Ternate, Disnaker dan beberapa Instansi lainnya.

Dalam proses pelasanaan aksi SGSPI, pihak penyelenggara “Fun Mayday” yang difasilitasi kepolisian mengajak massa aksi untuk mengikuti seremoni perayaan “Fun Mayday”. Sampai kemudian terlihat beberapa kelompok massa aksi (PMII dan SPN memilih bergabung dengan acara tersebut.

Menanggapi hal tersebut, massa aksi yang menolak bergabung membakar spanduk aksi sambil melakukan orasi ilmiah mengecam perayaan “Fun Mayday” yang dianggap telah mengalihkan kesadaran buruh yang ditindas hari ini dengan kegiatan yang tidak produktif. Melalui koordinator lapangan, Arianto Udin menegaskan bahwa aksi tersebut adalah murni untuk memperjuangkan nasib buruh yang dimarginalkan oleh sistem lewat berbagai produk hukum yang menindas buruh seperti PP nomor 78 tahun 2015, sistem kerja kontrak, upah murah dll.

Adapun beberapa isu yang diangkat oleh massa aksi antara lain :

  1. Cabut ijin PT. NPN dari tanah Gane
  2. Tolak PT. Teratex Lumina Jaya di Kao Teluk
  3. Tolak PT Tri Usaha Baru di Loloda
  4. Tolak Tenaga Kerja Asing non skill di Indonesia, khususnya Maluku Utara.
  5. Stop PHK dan naikkan Upah Buruh sesuai KHL.

 

Tobelo

SMI Cabang Tobelo yang tergabung dalam Aliansi Peduli Demokrasi dengan mengangkat isu “Momentum Mayday Sebagi Bentuk Perlawanan Rakyat Terhadap Rezim Upah Murah Untuk Menopang Perekonomian Nasional”.

MorotaiAksi yang dihadiri puluhan massa aksi ini memulai aksi sekitar pukul 09.00 WIT dari UNIERA menuju perempatan pelabuhan Tobelo sambil melakukan longmarch dan menyampaikan beberapa orasi politik seputar situasi nasional dan lokal dan dilanjutkan menuju Tugu Hibualomo. Aksi kemudian diakhiri sekitar pukul 13.00 WIT dengan menyampaikan pernyataan sikap.

Morotai

SMI Cabang Morotai dan LMND yang tergabung dalam Pelopor Perjuangan Rakyat merayakan Mayday dengan melakukan aksi massa yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIT dari kampus baru longmarch menuju pasar baru hingga taman kota dan diakhiri ke rektorat kampus.

Massa aksi yang terdiri dari sekitar 15 orang mengangkat tema “Rakyat Bersatu Lawan Rezim Upah Murah Jokowi-JK, Lawan Kapitalisasi Pendidikan dan Bangun Kekuatan Politik Alternatif melawan Elit Borjuasi”. Massa aksi menilai bahwa rakyat Indonesia akan terus ditindas jika terus menitipkan nasibnya ke elit politik borjuasi yang selalu menebar janji palsu dan senantiasa menghamba pada kepentingan modal. Aksi diakhiri dengan pembacaan statement bersama.

Selain beberapa kota tersebut, aksi serentak nasional juga dilakukan di Surabaya, Sumbawa, Dompu, Luwuk, Bacan dan Tidore (CN)

 

 

 






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *